Sabtu, 06 Mei 2017

Entrok by Okky Madasari




Ebook Scoop 282 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3,5/5

I think I have an issue for Okky Madasari’s books…

Saya sudah membaca beberapa karyanya, seperti Maryam dan 86, dan dari kedua buku itu saya mendapatkan rata-rata isu yang diangkat penulis untk bahan tulisannya: kaum pinggiran atau minoritas yang tak mampu melakukan apapun di tengah masyarakat mayoritas. Dan terlebih isu kental yang terjadi rata-rata di tahun-tahun era Orde Baru.

Bukannya saya tidak menyukai isu semacam ini, hanya membaca ini berasa mengingat luka lama yang ingin terkubur dalam-dalam. Saya pribadi tidak mengalami tekanan jaman Orba, tapi tetap masa-masa kegelapan itu terasa sangat menyakitkan ketika terbuka lagi, meski dalam bentuk fiksi (mungkinkah fiksi berdasarkan kisah nyata?). Beberapa penulis lain juga sering kali menulis era yang sama, tapi rasa yang saya dapatkan berbeda. Sebut saja Ayu Utami, Ahmad Tohari, dan beberapa cerpen milik Puthut EA. Saya merasakan adanya dendam teramat dalam dalam kisah-kisah yang ditulis penulis buku ini.

Sebelum membaca novel ini, saya menyempatkan sedikit membaca-baca review di Goodreads, rata-rata mereka memberikan rating bagus dengan memberi sedikit gambaran seputar perempuan-perempuan yang dikisahkan di novel ini; Sumarni dan Rahayu. Saya pikir kisah mereka adalah kisah yang berbeda yang sama-sama terinspirasi dari Entrok, alias bra, yang menjadi judul novel ini. Ternyata saya salah. Entrok hanya muncul di kisah bagian Sumarni saja. Selebihnya, isunya lebih kental mengarah pada agama atau kepercayaan dan pemerintahan Orba. 


Sumarni, lahir dan besar di jaman Orde Lama di masa-masa ia dan ibunya ngenger di pasar Ngranget, menjadi pengupas singkong dengan upah singkong. Teja, si kuli panggul mendapat upah uang receh seusai nguli. Marni yang sedang ngidam entrok alias bra, karena payudaranya yang mulai mringkili, memilih menjadi kuli panggul dengan mendapat upah duit receh demi entrok. Dari obsesi memiliki entrok, hingga kemudian Marni memulai bisnisnya; dagang sayur, dagang perlengkapan rumah tangga hingga dagang duit alias memberi utangan pada warga pasar Ngranget. Hidupnya stabil, ditambah dengan pernikahannya dengan Teja dan memiliki anak, Rahayu.

Bahagia kah Marni? Seandainya ia hidup di jaman sesudah reformasi, mungkin. Sayangnya, si penulis suka sekali mendramatisir kondisi jaman Orba seperti kisah di novel 86.

Kekayaan Marni digerogoti oleh penguasa setempat; mulai dari sumbangan partai, biaya keamanan, biaya sumpal mulut penggede setempat, dll. Jatuh miskin kah ia? Oh, tidak. Marni tetap setegar batu, mengumpulkan receh demi receh, hingga jaman menggantikan bank recehnya…

Rahayu, putri Marni, meski besar dengan ritual sajen ibunya untuk Mbah Ibu Bapak Pertiwi (something like that, saya lupa :D), tidak setuju dengan apa yang dilakukan ibunya. Guru agamanya di sekolah mengajarkan tentang Tuhan, tentang ritual untuk Tuhan-nya, dan hal-hal yang dibenci Tuhan-nya. Rahayu benci pada apa yang dilakukan ibunya. Dia sekolah di tempat yang jauh hingga ia tak perlu melihat apa yang dilakukan ibunya, hingga ia mengenal komunitas agama, menjadi istri kedua, menjadi pembela kaum miskin di tanah yang diklaim milik negara, terpenjara dan …

Saya pikir, isu seputar pemerintahan Orba itu terlalu didramatisir dengan Entrok sebagai judul novel ini. Saya menyukai bagian-bagian dimana Sumarni menggaji para lelaki yang menjadi buruhnya, perempuan yang dulu hanya dibayar singkong dan terpaksa nguli demi sepasang entrok. Isu feminis sangat kental disini, masih lah berhubungan cukp erat dengan entrok. Tapi ketika kisah beralih ke Rahayu, dengan komunitas agamanya, para pemuka agama yang ia ikuti, yang saya dapatkan malah jijik. Peran perempuan ketika beralih kepada Rahayu, justru berubah. Meski ia setegar ibunya, tapi tetap saja ketegarannya berbeda. Kenapa hal semacam ini masuk ke novel ini? Boleh lah dijadikan novel yang berbeda yang mungkin saya bakal tertarik membacanya. 

Terus terang, saya berharap ada sedikit kebahagiaan di akhir kisah ibu dan anak ini. Sayangnya kisah berakhir di tahun 1994, ketika OrBa belum terusir dari negeri ini. Meski sama-sama mengisahkan kebobrokan para pejabat jaman si eyang-mantan-presiden, usai membaca Orang-Orang Proyek milik Ahmad Tohari, ada sedikit kelegaan. Meski tidak demikian dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Tapi kebencian yang mendalam terhadap OrBa sangat terekam di novel ini. Itulah kenapa saya memasukkan novel ini sebagai too disturbing to finish. Saya nyaris ngga mampu menyelesaikannya. Pahit, tapi ngga segitunya lah… 

Enough of my babbling…

2 komentar:

  1. Waah saya padahal cukup penasaran pengen baca karya mbak Oky Madasari yang ini. Lagi hunting nyari buku ini nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya akunya aja yang bermasalah dg isu2 dari novel2nya Okky deh. Sudah banyak di diskonan kok buku ini. Happy hunting :D

      Hapus