Selasa, 21 Februari 2017

Satu Hari Saja (Just One Day #1) by Gayle Forman




Ebook Scoop. 404 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama, February 2014
Rating 3,5/5

“Travelling's not something you're good at. It's something you do. Like breathing. You can't work too much at it, or it feels like work. You have to surrender yourself to the chaos. To the accidents.”


 
Ada banyak hal yang melompat-lompat dalam otak saya selama membaca novel ini. Yang pertama adalah, novel ini sekilas mirip dengan film yang dulu pernah favorite saya, Before Sunset yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delpie, tentang dua anak manusia yang bertemu di kereta api, dan kemudian melakukan perjalanan bersama-sama selama satu hari, atau setengah hari? (saya lupa, saking lamanya :D ). Tapi kemudian otak saya berubah ketika kisah mengarah pada pencarian Allyson alias Lulu terhadap Willem alias Sebastian. Kisah perjalanannya hampir mirip dengan perjalanan wisata ke negara-negara Eropa, lengkap dengan peta dan apartemen murah. Tapi kemudian kisah ini mengingatkan saya pada diri sendiri yang pernah berada di posisi Allyson dalam mencari seseorang. Yang membedakan adalah Allyson pergi menacaaro hingga ke tengah kota Amsterdam, saya cukup menyerah saja. Hiksss…

Allyson sedang mengikuti tour di Eropa bersama rombongan tour ditemani sahabt masa kecilnya, Melanie. Mereka hendak menonton drama As you Like It ketika mereka kemudian bertemu dengan seseorang, Willem, yang memberi selebaran pertunjukan drama Shakespeare, The Twelfth Night bersama rombongan Gerilya Will, di emper gedung. Tergoda oleh tawaran ini, mereka menyelinap pergi dari rombongan dan menikmati kisah komedi milik Shakespeare. 

Ada sesuatu dalam diri willem, yang membuat Allyson tertarik padanya. Tak disangka, mereka bertemu lagi di kereta yang sebenarnya akan membawa mereka ke London, dan pulang. Willem menawarkan melanjutkan perjalan ke Paris, dalm waktu satu hari. Allyson yang terbiasa mengikuti semua jadwal yang diatur ibunya, tiba-tiba menyetujui gagasan mendadak ini.


Dan mereka pun melancong ke Paris. Berdua. Saling bercerita. Tanpa membuka terlalu banyak tentang diri masing-masing. Bahkan Willem memilihkan satu nama unik untuk Allyson, yaitu Lulu, dan Allyson menikmati menjadi ‘orang lain’ dalam sehari. 

Karena novel ini berjudul Just One Day, saya berpikir novel setebal lebih dari 400 halaman ni bakal menceritakan apa yang mereka lakukan, yang mereka obrolkan selama satu hari. Eh, ternyata saya salah :D

Satu hari berlalu. Mereka berpisah dengan cara kurang mengenakkan dan meninggalkan luka di hati Allyson hingga beberapa bulan kemudian. Allyson tak bisa lepas memikirkan apa yang pernah terjadi dalam sehari itu, hingga ia memutuskan mencari Willem. 

Dan saya jadi lebih menikmati kisah Allyson dalam setengah novel terakhir :D

Bukannya saya tidak menikmati saat-saat Allyson bersama Willem. Kesan yang saya tangkap dari Allyson adalah keinginan untuk menjadi diri yang berbeda tapi setengah-setengah. Banyak hal-hal yang dia takutkan, yang ia merasa kurang yakin, dll. Tapi mungkin itu juga pengaruh satu hari dalam satu tahun berikutnya bagi dirinya, ia menjelma menjadi berbeda dalam arti sebenarnya ketika ia memutuskan berontak dari kekangan ibunya yang tukang ngatur, Melanie, sahabat kecilnya yang juga mulai berubah. Teman barunya di kampus, Dee, juga memberi wana yang asik pada dirinya dan juga novel ini (eh, saya nyaris DNF lo, tapi berkat Dee, saya jadi semangat baca lagi). Belum lagi pertemuan dengan teman-teman seperjalannya yang asik-asik. 

Well, sebenarnya saya kurang suka dengan novel genre romance yang menye-menye yang biasanya kalo pun saya selesaikan baca, biasanya sih saya kasih rating minimal 3. Novel ini menurut saya tidak terlalu berbau romance sih, saya menangkap banyak dari diri Allyson yang stress dengan aturan ibunya, keinginan dirinya untuk berubah jika itu harus membuatnya bekerja, keluar dari zona nyamannya kalo itu yang akan mendekatkannya pada penemuan Willem, dan tentu saja keyakinan pada diri sendiri yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. At the end, rasa kurang suka saya pada Allyson sedikit berkurang. Tapi jika saja kekhawatirannya itu adalah nyata, jika Willem bukan Willem, seperti dirinya yang menjelma menjadi Lulu, dan jika Willem adalah apa yang dituduhkan Celine (eh, atau mungkin iya ya? :D ), apakah pencarian Allyson akan sia-sia? Hmmm…. Tidak juga. Segala benefit ada pada dirinya sendiri, dan juga pada keluarganya. Dan mungkin pada Willem? Saatnya membuka buku keduanya, Just One Year? Nanti lah dulu. Ganti suasana dulu lah :D

1 komentar:

  1. Ceritanya lumayan menarik, jadi pengen baca nih :D

    Ternyata banyak rahasia di dalamnya, tapi kalo ku jadi Allyson, aku ga akan mau diajak pergi ke negara yang ga aku tau seluk beluknya ditambah dengan orang asing, buat jaga-jaga aja sih. Zaman sekarang kan ga seindah bacaan novel dan tak seaman pelukan ibu #halah

    Kira-kira hal tak mengenakan apa yang terjadi saat pertemuan terakhir mereka berdua yaa...

    BalasHapus