Senin, 23 Januari 2017

Semusim, dan Semusim Lagi by Andina Dwifatma


Paperback 232 pages
Published April 2013 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3,5/5

Sebelumnya saya menduga novel ini masuk kategori absurd mengingat novel ini menjadi pemenang Sayembara Menulis Novel oleh DKJ tahun 2012. Tapi hampir separo buku ini terasa 'normal' tak ada kisah absurd yang saya harapkan di awal novel. Tapi ternyata, separo terakhir novel ini memenuhi dugaan saya. Selamat datang, absurdity.

Bermula dari sebuah surat yang diterima oleh si Aku (selama ia menceritakan pengalamannya, sama sekali ia sebut nama nya sendiri), dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnya. Si ayah yang terpisah darinya sejak ia berumur dua tahun sekarang tinggal di kota S. Berdua tinggal bersama Mama-nya tidak membuatnya dekat, bahkan mereka hanya mengobrol ketika diperlukan saja. Sehari setelah si Mama tiba-tiba menghilang, si Aku memutuskan untuk berkunjung ke kota S.


Disana, ia disambut orang terdekat ayah nya, J. J. Henry yang kemudian membawanya ke sebuah rumah milik Joe, nama yang ia pilih untuk ayahnya. Di rumah inilah segala kisah bermula, berkembang dan mencapai klimaksnya. Si ayah ternyata mengidap suatu penyakit yang tidak memungkinkan nya bertemu si anak yang datang berkunjung. Si Aku yang sedang menikmati liburan panjang menjelang masuk kuliah, sangat menikmati hari-harinya di rumah Joe. Deretan buku-buku menjadi sanctuary buatnya, kompleks rumah yang lumayan sepi menjadi sarang persembunyian yang sempurna baginya yang tidak menyukai obrolan dengan orang lain. Tetangga kanan kiri yang paling menarik baginya adalah Oma Jaya yang percaya tentang adanya reinkarnasi, dan suaminya yang meninggal telah berreinkarnasi dalam bentuk ikan mas koki bernama Sobron. Tapi semua berubah dengan hadirnya J. J. Henry dan kemudian disusul anaknya, Muara. Bapak-anak ini membuat kehidupan si Aku berwarna-warni lebih menyenangkan. Obrolan seputar buku, film hingga musik sampai nama-nama pohon menjadi menarik. 

Kehidupan monoton si Aku mulai berubah ketika ia memandang Muara lebih dari seorang teman, demikian juga sebaliknya. Mereka terlibat cinta 'lokasi' yang berakibat si Aku hamil dan Muara menginginkan si bayi digugurkan. Meski tak suka anak kecil, si Aku tak ingin si bayi dibunuh. Dan ia pun membunuh Muara. Pembunuhan ini berujung ke hari-hari panjang si Aku, mulai dari kantor polisi, sel penjara, hingga rumah sakit jiwa. Di waktu sepinya, Sobron, jelmaan suami Oma Jaya sering muncul mengajaknya mengobrol, masih dalam bentuk ikan mas koki raksasa. 

Dan disini rupanya saya menemukan keunikan cerita dari novel pemenang ini. Setting waktu dan tempat menjadi rancu dengan munculnya Sobron. Saya tahu, Sobron muncul dalam halusinasi si Aku, tapi terkadang disusul munculnya si Mama yang tiba-tiba juga menghilang begitu saja. Apakah ini juga halusinasi. Sepertinya saya juga kudu periksa kesehatan jiwa ini :) Demikian juga dengan munculnya Muara dan ayah si Aku yang bisa saja itu halusinasi. Ah, si penulis ini membuat garis nyata dan halusinasi menjadi tipis dengan ending yang meski masih membingungkan (buat saya) tapi cukup happy ending. 
Overall, meski berasa absurd, tapi rasanya masih crunchy khas remaja yang limbung mencari jati diri. Sekuat apapun benteng pertahanannya untuk bertahan sendiri, tetap saja seseorang membutuhkan orang lain, sekedar untuk berinteraksi, bertukar pikiran untuk menjaga tetap waras. Hal yang saya suka disini adalah banyaknya quote dari buku-buku terkenal dan juga bahasan tentang lagu Bob Dylan yang juga saya suka. 

3 komentar:

  1. Waah aku juga tidak terlalu mengerti dengan cerita ini. Campuran antara halusinasi dan kenyataan. Apa si Aku ini indigo? Jadi dia terkadang menciptakan dunia sendiri dalam pikirannya. Kalo bisa dapat buku ini dari GA BBI aku benar-benar nggak sabar buat meresensinya.

    BalasHapus
  2. Waah aku juga kurang mengerti cerita novel ini. Campuran antara kenyataan dan halusinasi. Apakah si tokoh Aku ini indigo? Jadi dia menciptakan dunia sendiri dalam pikirannya. Kalo bisa dapat buku ini dari GA BBI, aku benar-benar tidak sabar untuk meresensinya😊

    BalasHapus
  3. Aku pernah baca review ini di salah satu blog dan dia merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Kebetulan disini pun ada reviewnya dan setelah baca reviewnya bikin aku penasaran pengen baca juga bukunya. Semoga menangin buku ini dari hadiah GA nya haha

    BalasHapus